Web Blog Abu Ukasyah Al-Cilacapiy

Memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Salafush Shaleh.

Menuju Insan Yang Bertaqwa dengan Ilmu Agama

Aqidah, Hadits, Fiqih, Mutiara hikmah Salaful Ummah.

Berbagi ilmu berasaskan ukhuwah Islamiyah

Web Blog Sarana Pengebat Ilmu dan Pendulang Pahala.

Sarana Berbagi Materi

Materi Kajian, Khutbah Jum'at dan Kultum.

Silahkan Download

Soal - soal ujian Lipia, copy rangkuman materi.

Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

Menengok Sebuah Tradisi (Sebuah Tinjauan Syari'at Tentang Sedekah Laut)

Oleh : Abu Ukasyah Al-Cilacapiy



Kaum Muslimin Rahimakumullah
            Sungguh teramat pahit jika ada seseorang datang kepada kita dengan sebuah nasehat, terlebih lagi manakala nasehat tersebut bertolak belakang dengan apa yang kita yakini selama ini. Namun begitulah, ketika hal ini berkaitan dengan hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya maka tidak akan pernah merasa segan hati ini untuk melakukannya. Karena sangat miris kiranya, ketika melihat kaum muslimin masih melakukan tradisi dan ritual-ritual kesyirikan, manakala kita berusaha menasehati mereka, maka apa jawabnya? "Ah, tidak usah kamu mengusik urusan kami". Dan sebagian lainnya berkata :"Jadi orang jangan fanatik, hidup saja bermasyarakat tidak usah saling sikut". Dan banyak lagi jawaban yang senada dengan hal tersebut, aduhai jika saja mereka tahu apa balasan bagi orang-orang musyrik diakhirat sebagaimana tertuang didalam Al-Qur'an :
"Artinya: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun" (QS. Al-Maa'idah (5) : 72)
            Untuk itulah sebagai sumbangsih dari kami dalam rangka saling memberikan nasehat diantara kaum muslimin, maka kami memandang perlu untuk menjelaskan tentang hakikat sebuah tradisi sedekah laut yang setiap tahun diadakan dikota Cilacap yang tercinta ini. Mudah - mudahan Allah Tabaraka Wa Ta'ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Sejarah Sedekah Laut
             Tradisi sedekah laut ini bermula dari perintah Bupati Cilacap ke III Tumenggung Tjakrawerdaya III, yang memerintahkan kepada sesepuh nelayan Pandanarang bernama Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji kelaut selatan beserta nelayan lainnya pada hari Jum'at Kliwon bulan Syura (Muharram) tahun 1875, kemudian pada tahun 1983 tradisi ini diangkat sebagai atraksi wisata.
            Sebelum hari pelaksanaan upacara sedekah laut, biasanya didahului dengan prosesi nyekar ke Pantai Karang Bandung (Pulau Majethi) sebelah timur tenggara Pulau Nusa Kambangan. Kemudian ketika hari pelaksanaan upacara ini didahului dengan prosesi membawa Jolen Tunggul (Sesaji Utama) yang diringi arak-arakan Jolen-Jolen penggiring lainnya oleh para peserta prosesi dengan berpakaian adat  untuk dilarung kelaut lepas di Pantai Teluk Penyu Cilacap, yang bermula dari Pendopo Kabupaten Cilacap dengan berjalan kaki. Setibanya di Pantai Teluk Penyu maka Jolen-Jolen (Sesaji yang berisi kepala kerbau, jajanan pasar, bunga, kemenyan dsb) ini dipindahkan ke kapal nelayan untuk dibuang ketengah lautan dikawasan Pulau Majethi.

Timbangan Syari'at.
            Tidak ayal lagi bahwasanya tradisi tersebut adalah sebuah kesyirikan yang nyata, yang dibalut dengan nuansa budaya. Yang sangat besar kemungkinannya hal tersebut adalah akibat dari asimilasi antara agama Islam dengan ajaran Hindu & Budha yang masih melekat dihati masyarakat kala itu, yang kemudian hal ini diwariskan kepada anak cucu mereka hingga saat ini.
            Menurut keyakinan mereka Laut Selatan Jawa dikuasai dan diperintah oleh Nyi Roro Kidul yang mana mereka berharap dengan melarungkan sesaji kepadanya, hasil tangkapan nelayan pada tahun tersebut akan melimpah. Maka dengan ini mereka telah menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari dua sisi :
1.      Dari sisi rububiyah  
a.       Dimana mereka berkeyakinan ada penguasa lain yang menguasai laut selain Allah, padahal Allah berfirman : "Artinya: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (QS. Al-A'raaf (7) : 54).
b.      Dimana mereka takut akan ditimpa kemudharatan dan bala bencana karena Penguasa Laut Selatan akan marah apabila mereka tidak melakukan ritual tersebut. Allah berfirman : "Artinya: " Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Maa'idah (5) : 76)
2.      Dari sisi uluhiyah 
a.       Dimana mereka berkorban dan beribadah kepada selain Allah, padahal Allah berfirman : "Artinya: "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS. Al-An'aam (6) :162)
b.      Jika mereka berdalih bahwa hal itu hanyalah sebagai wasilah atau perantara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah, maka mereka telah bertawasul (Mencari perantara) dengan kesyirikan. Karena hal tersebut tidak ubahnya seperti alasan kaum musyrikin Arab pada zaman Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Allah berfirman :"Artinya: "Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." (QS. Az-Zumar (39) : 3)

Ancaman Bagi Pelaku Kesyirikan
            Sesungguhnya orang-orang musyrik yang mati dengan membawa dosa syirik, Allah tidak akan mengampuni dosa mereka bahkan mereka kekal didalam neraka selama-lamanya, sebagaimana Allah berfirman : "Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (QS. An-Nissa (4) : 48)
            Maka barangsiapa yang mengadakan ritual-ritual seperti diatas, dia akan mendapatkan ancaman  dari ayat tadi yaitu kekal dibakar didalam neraka selama-lamanya. Kecuali orang yang bertaubat serta meninggalkan kesyirikan dan meninggal dunia diatas tauhid, maka ia dijamin masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Barangsiapa menemui Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya sedikitpun maka pasti masuk surga, dan barangsiapa menemui Allah dalam keadaan musyrik maka pasti masuk neraka" (HR. Muslim No.136)
            Maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain meninggalkan semua perbuatan syirik tersebut, jika kita ingin selamat dari adzab yang sangat pedih. Dan jangan sampai kita menyesal –waliyyadzubillah- dengan penyesalan orang-orang musyrik ketika dibakar didalam neraka. Allah berfirman : "Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (kesyirikan): "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka". (QS. Al-Baqarah (2) : 167)

Hukum Meramaikan Acara Kesyirikan
            Syaikh Muhammad bin Utsaimin ditanya tentang hukum berpartisipasi pada perayaan non muslim -termasuk didalamnya perayaan kesyirikan- beliau menjawab : "Berpartisipasi -termasuk menonton- dalam perayaan non muslim -atau perayaan kesyirikan- adalah tidak boleh. Karena didalamnya terdapat unsur tolong-menolong didalam dosa dan kemungkaran, sedang Allah berfirman :"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya". (QS. Al-Maa'idah (5) : 2). Dan karena perayaan ini adalah hari dimana mereka merayakan kepercayaannya, maka keikutsertaan kita didalamnya melazimkan kita untuk mengakui kebenaran dari kepercayaan tersebut dan ridho atasnya". (Lihat Fatawa Syaikh Utsaimin Fil Aqidah (2 / 1363-1364) Dar Tsuraya. Dengan sedikit penyesuaian). 


Maraji'
- Al-Qur'an Al-Karim
- Shahih Muslim – Mak. Syamila
- At-Tauhid Lisshofil Awal Al-'Ali
- Kitabut Tauhid
- Fatawa Syaikh Utsaimin Fil Aqidah
- BanyumasNews.Com

Sabtu, 06 Juli 2013

Pelajaran Saking Kaluargo Nabi Ibrahim Alaihis Salam

Oleh : Ustadz Julianto



إنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.


Para sederek Kaum Muslimin  Muslimat,Rahimakumullah.
Minangka purwakaning atur mangga kita sesarengan ngunjukaken syukur dateng ngarsa dalem Allah, awit peparing kanugrahan lan nikmat ingkang tanpa kawical wical, langkung langkung rahmat kawilujengan lan yuswa panjang dateng kita sedaya , sahingga enjang punika kita tasih saget menangi malih dinten riyaya Iedul Adha, lan saget makempal ing masjid punika kanti tanpa manggih rubeda satunggal punapa.
Saklajengipun keparenga kula ngajak dateng awak kula piyambak lan panjenengan sedaya, mangga tansah sami netepi taqwa lan ajrih dateng Allah ing sakdengah kawontenan, sami ugi wonten ing kawontenan bingah utawi sisah, longgar jembar utawi rupeg, kawontenan rame utawi sepi, terang terangan utawi sesideman,  kanthi tansah  nindakaken perintah lan nebihi sedaya cegah lan awisanipun Allah, supados kita tansah pinaringan kabegjan  dunya ngantos akhirat saking ngarsa dalem Allah Subhanahu wa Ta’ala ,  Kados dawuhipun Allah :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Temenan Allah iku tansah anyertani wong kang pada taqwa lan wong wong kang pada agawe becik” . (QS. An Nahl :128)
  
Jama'ah shalat jum'at ingkang minulyo
Wekdal puniko kita taksih wonten ing nuansa bulan zhulhijah inggih nuansa wulan riyaya haji, sakwetawis monggo kita mendet ibrah saking kisahipun kluarga Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. 
Pangorbanan ageng saking Nabiyullah Ibrahim Alaihis salam kados ingkang kasebat ing Al-Qur’an, punika mboten namung sekedar minangka sejarah lan carios kemawon, ananging dados tulada tumrap kita sedaya. Nalika panjenenganipun pinaringan pacoben dening Allah, supados nyembelih putranipun inggih Nabi Ismail Alaihis salam, dawuh kasebat katampi kanti sabar  lan ridla, saha katindakaken kanthi ikhlas murih karidlan saking ngarsa dalem Allah.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah,
Mangga sak wetawis kita gatosaken menggah ingkang putra, pun Nabi Ismail Alaihis salam, Panjenenganipun ngrupekaken patuladan ingkang kedah dipun damel kiblat dening para putra remaja lan pemuda. Panjenenganipun satunggaling putra ingkang sholih lan bektos dateng tiyang sepuh. Kanti sabar lan ridla nampi qadla ipun Allah, sahingga ikhlas lila legawa berqurban nyembadani dawuhipun ingkang rama, sinaosa kedah nyawa ingkang namung setunggal setunggalipun ingkang kedah dipun qurbanaken. Nabi Ismail tanpa suwala, kanti tawakkal lan tatag manahipun matur dateng ingkang rama:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنْ الصَّابِرِينَ

“Duh Kanjeng Rama, sumangga kawula aturi enggal nindakaken menapa ingkang kadawuhaken dumateng Rama, Insya Allah Rama bade manggihaken kawula kalebet golonganipun tiyang tiyang ingkang sami sabar”. (QS. Ash Shaffat : 102)

Inggih wujudipun putra ingkang setya tuhu mbangun miturut dateng tiyang sepuh, ikhlas lan ridla labuh labet dateng agami, nadyan kedah ngorbanaken jiwa. Ngaten punika, ingkang kawastanan putra ingkang sholih, ingkang dados kekudanganipun saben saben tiyang sepuh. Putra ingkang mekaten kedah kadamel tulada tumrap para putra remaja lan pemuda, minangka putra lan generasi ingkang sholih lan sholihat. Lajeng wonten pitakenan tumrap kito sedoyo inggih puniko
Punopo ketulusan lan ketaatanipun Nabi Ismail Alaihissalam netepi perintah Agami lan tiyang sepuh sampun kapraktekkaken tumrap para pemuda ing zaman puniko?? Inggih Alloh lan diri pribadi kito ingkang langkung mangertosi.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah,
Mbok bilih inggih namung  kanti pangorbanan ingkang ageng, kabahagyianing gesang punika bade saget dipun gayuh, kasebat ing setunggaling pangandikan ingkang mengku hikmah:

لَنْ تنُاَلَ الْعِزَّةُ إِلاَّ بِمُرُوْرِ الْبَلِيَّةِ

ora bakal kagayuh kamulyan, kejaba kanti ngliwati sengsaraning pangurbanan”

Ananging pangorbanan punika kedah kanti linandesan keyakinan iman lan i’tikad ingkang kiyat, jalaran pangorbanan ingkang tanpa kadasaraken dateng keimanan tentu namung bade siya-siya  muspra tanpa tanja. Allah sampun paring dawuh :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلاَّ مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

“Dudu banda banda lan anak anak ira kabeh kang bisa nyaketake sira marang Ingsun senajan sithik wae, kejaba wong kang iman lan ngamal sholih,  iya  wong wong kang kaya mengkono iku kang bakal merkoleh piwale skang tikel-matikel, sebab olehe pada ngamal wong wong mahu, lan wong-wong mahu bakal sentosa ing panggonan kang luhur”. (QS. As Saba’ : 37)

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah,
Panjenenganipun Nabi Ibrahim minangka jejering tiyang sepuh, ingkang wicaksana lan wibawa, ugi ta’at lan patuh, kanti ikhlas lan ridla mundi dawuhipun Allah, sinaosa kedah ngorbanaken putra. Nabi Ibrahim setya dateng garwa, lan tresna dateng putra, tabah lan tawakkal nampi kasunyatan pacobenipun Allah.
Ismail minangka putra ingkang sholih, tha’at ngestokaken dawuhipun Allah  Pangeranipun, bektos lan mbangun miturut dateng tiyang sepuh.
Lajeng wonten pitakenan punopo rahasia kesuksesan Nabi Ibrahim As ingkang saget ndidik Putranipun Ismail  ingkang setio tuhu, menawi kito maos Al-Qur’an kito bade manggihi kunci suksesipun:

Do’a ingkng tansah dipun panjataken Nabi Ibrahim

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Alloh karuniaken dumateng kulo keturunan ingkang shali”. (QS. Ash-Shaffat : 100)

Doa kolo wau dipun panjataken Nabi Ibrahim tebeh sak derengipun nikah,beliau nyuwun dumateng Allah Anak ingkang shalih, mboten nyuwun anak ingkang sugih, berjabat, cendikiawan ananging nyuwun anak ingkang shalih. Sahingga dumateng para para sederek kita ingkang cerak dating usia pernikahan monggo nyuwun dumateng Alloh kados doa nipun nabi Ibrahim kolo wau, lajeng dumateng pasangan suami istri ingkang istrinipun nembe hamil katah-katahaken nyuwun dateng Allah anak ingkang Shalih, ingkang do’a anak shalih puniko gadahi manfaat engkang ageng kagem tiang sepuhipun benjang ing alam kubur. Sahinggo mugi keparingn putra ingkang kados Nabi Ismail ‘Alaihis Salam.

Rasulullah bersabda:

بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أبْنَاؤُكُمْ

Berbaktilah kepada orang tuamu niscaya anakmu akan berbakti kepadamu”. (HR. Thabraniy)

     Kepedulian Nabi Ibrahim as dateng  pendidikan anak-anakipun 

Dalam al-Quran diceritakan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS. Ibrahim : 35)

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al-Baqarah : 132)

Ayat-ayat kolo wau paring bukti bilih perhatianipun Nabi Ibrahim As dumateng pendidikan anak-anakipun, beliau mboten lilo menawi putranipun bodo utawi wonten jalur pendidikan ingkang klintu. Ampun ngantos jalaran ekonomi utawi alas an pekerjaan kita mengabaikan pendidikan Anak. Punopo ken putro wayah sampun ngamalaken ajaran Agami? Punopo sampun tiang sepuh paring tulodo ingkang sae tumrap putra putrinipun? Menawi dereng bersiaplah nampi pacoben Allah kanti dalan Putra purinipun.
Kedah dipun mangertosi bilih pendidikan ingkang sepindah lan utami inggih puniko pendidikan Agami, lajeng pendidikan pendukungipun inggih puniko pendidikan umum.

    Kepedulian Ibrahim dumateng kesejahteraan anak lan keluarga

Nabi Ibrahim Alaihis Salam puniko sosok seorang bapak ingkang sae, lan suami bertanggung jawab. Demi membahagiakan keluarganipun, Nabi Ibrahim as rela merantau ribuan kilometer dari Palestina ke Mesir, lan meniko dipun tindakkaken berkali-kali sanaoso kondisi alam ingkang tandus lan panas. Kados diungkapaken wonten doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim : 37)
Rasulullah menyatakan bilih tiang ingkang kerja keras kagem ngais rezkiningkang halal kagem kluarga, dipun nilai Allah dados shadaqah ingkang inggil bahwa seseorang yang bekerja keras guna mencari rizki yang halal untuk keluarga, dinilai oleh Allah sebagai sadaqah yang tertinggi. Dalam hadis beliau bersabda:

وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ ، أعْظَمُهَا أجْراً الَّذِي أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ

Satu dinar dari harta yang engkau nafkahkan untuk keluargamu merupakan pahala yang paling besar di sisi Allah”. (HR. Muslim No. 995)

Kito sedoyo selaku kaum muslimin ampun ngantos putus asa, sebalikipun kito kedah bangkit singsingkan lengan kagem natap hari esok kanti penuh optimisme lan harapan langkung sae. Ampun kito supe dateng firman Allah:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)

(5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (6). sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh.


Khutbah Ke II :
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Kaum muslimin ingkang minulyo
 Menawi kita sedaya, Bapak, Ibu lan putra saget ngalap piwucal lan tulada dateng keluarga Nabi Ibrahim punika, Insya Allah kita sedaya ugi bade kaparingan rahmat lan maghfirahsaking ngarsa dalem Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mugi mugi Allah tansah midanget lan ngijabahi dunga panyuwun kita, andadosaken keluarga ingkang sakinah manggih kabegjan   dunya ngantos akhirat. Amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
 يَامُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ اللَّهُمَّ يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ   
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ  أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنُا
وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَأَعِدْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ هَذَا الْيَوْمِ

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنَا وَبَنِيْنَا أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 : Sumber